Tampilkan postingan dengan label Daleman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daleman. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Januari 2016

Brongsong itu tengah dianyam Bu Wagiyem



Dari suatu desa di Wonogiri, Jawa Tengah, bambu-bambu apus yang sudah tua itu ditebang dan dijual oleh petani. Oleh pedagang dari Klaten, bambu itu dibeli dan diangkut truk ke Kecamatan Pedan, Klaten, Jawa Tengah. Dari Pedan, bambu Wonogiri itu selanjutnya dikirim ke para pelanggan dengan "songkro" yang ditarik motor beroda dua.

Para pelanggan itu adalah ibu-ibu di Dukuh Daleman, Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Klaten. Ibu-ibu pembeli bambu itu adalah perajin yang dengan anyaman tangan mengikhtiarkan nilai-lebih ekonomi perbambuan. Bambu apus Wonogiri adalah bahan baku untuk kriya rupa dengan penanda sunduk, tompo, kreneng, dan kukusan. Di Dukuh Padangan, selatan Daleman, penanda itu adalah besek. Kriya bambu pun menjadi petanda ekonomi dengan keterlibatan ibu-ibu Desa Palar. Dengan bambu juga, Bu Wagiyem, warga RT 15 RW VII menandakan Dukuh Daleman dengan anyaman bambu.

Minggu, 08 November 2015

“Pendhowo Pitu" di Daleman


Pada Sabtu Kliwon (7/11) malam berlangsung pertunjukan wayang kulit “Pendhowo Pitu” di Dukuh Daleman, Desa Palar, Trucuk, Klaten. Pertunjukan dimulai dengan penyerahan wayang Pandu dari Bapak Drs. Sambito, M.Si. kepada dalang Giyarno Gombloh dari Juwiring, Klaten.

Pertunjukan wayang kulit semalam suntuk merupakan rangkaian kegiatan terakhir dari "Atur Sujud Kepada Yang Maha Kuasa dan Hardjo Suwito Mengenang”. Menurut Bapak Drs. Sambito, M.Si., mewakili keluarga, rangkaian kegiatan sudah berlangsung sejak sehari sebelumnya, Jumat Wage (6/11). Kegiatan meliputi sunatan massal, pembacaan surat Yassin, tahlilan, dan tausiyah oleh Ustad K.H. Arifin. Pada Sabtu Kliwon (7/11), kegiatan meliputi pembagian sembako, kunjungan ke panti asuhan, hiburan musik grup band "The Sam" (Semarang), dan diakhiri dengan pagelaran wayang kulit.