Rabu Kliwon, petang hari, 2 Desember 2015, baru beranjak menuju Kamis Legi. Sisa hujan sore meninggalkan aroma yang khas di jalanan konblok di Dukuh Geneng, Desa Palar. Pelan dan pasti saya langsung menuju ke Pak Mrajak.
Sejumlah ibu-ibu sudah menunggu di samping gerobak Pak Mrajak. Tak lama berselang, seorang bapak, dengan bersepeda, berhenti, menyodorkan rantang, dan memesan mi rebus. Saya pun memesan nasi goreng, yang oleh Mas Bondan "Mak Nyus" Winarno disebut dengan "menu darurat".
